Setelah
seminggu penuh mencari dana, berjuang mengumpulkan uang sebesar 10 juta rupiah.
Akhirnya kami bisa melaksanakan LKMM pada tanggal 17 September 2013.
Pada hari
pertama, pada saat keberangkatan yang diawali dengan hujan yang cukup lebat,
lalu setelah itu pelepasan-pun dimulai dengan hikmat, diawali sambutan dari Pak
Karebet selaku pembina, lalu dilanjutkan oleh Ustadz Muhibbudin selaku mudir
IBS insantama, lalu diakhiri dengan doa dari Ustadz Anas.
Lalu,
setelah maghrib perjalanan kami-pun dimulai menuju Garut, pada awal perjalanan
kondisi cenderung ramai, tetapi setelah beberapa jam kondisi mulai hening.
Setelah melalui 5 jam perjalanan akhirnya kami sampai di kota Garut, dinginnya
kota Garut menyambut kami, setelah di-drop di daerah perkebunan PTPN 8,
kami-pun dipersilahkan untuk istirahat.
Hari ke-Dua,
keesokan paginya, dinginnya kota Garut membangunkan kami dari tidur, aktivitas
kami dimulai dari jam 04.00 dengan sholat tahajjud dan mandi pagi, setelah itu
kami berangkat dari masjid tempat kami tidur ke rumah singgah untuk menyantap
sarapan pagi, disana kami disambut dengan ayam goreng dan sup yang hangat.
Setelah
mengisi energi dengan sarapan pagi kami harus berjalan kira-kira sejauh 12 KM,
menuju desa tempat kami akan melakukan analisis “SWOT”, yaitu desa Dawugan
Sari, tetapi jauhnya perjalanan tidak terasa karena indahnya pemandangan yang
ditunjukkan selama perjalanan.
Sesampainya
di desa kami disambut ramah tamah warga desa, setelah menjalani perjalanan yang
melelahkan kami dipersilahkan untuk beristirahat, sebelum menemui Kepala Desa. Pada
sore hari kami datang ke Balai Desa, Alhamdulillah kami disambut dengan hangat
disana, Pak Kepala Desa memberikan sambutan dan telah mempersilahkan kami untuk
melakukan observasi di desa-nya. Setelah acara selesai kami diajak berkeliling
desa dari RW 1 sampai RW 7 oleh Pak Sekretaris Desa, selesai berkeliling kami
bersiap untuk menjalankan sholat maghrib dan menjalankan agenda lagi setelah
isya. Setelah isya kami diberikan pengarahan oleh Pak Karebet, setelah
pengarahan kami dipersilahkan untuk istirahat untuk menjalankan tugas keesokan
harinya.
Hari
ke-Tiga, kegiatan kami dimulai setelah sarapan pagi, setiap kelompok dipencar
sesuai RW yang sudah ditentukan kami diberi waktu sampai Dzuhur, setelah Dzuhur
kami berkumpul di Masjid untuk menyusun power point mengenai hasil observasi
yang telah kami lakukan untuk dipresentasikan pada malam hari-nya. Malam-pun
tiba masing-masing kelompok mempresentasikan hasil observasi mereka, ternyata
cukup mengejutkan, apa yang sudah ditemukan oleh teman-teman kami, ternyata
masalah yang ditemukan tak jauh dari kemiskinan para penduduk desa tersebut.
Setelah semua kelompok mempresentasikan, saat-nya untuk menggabungkan semua
hasil observasi dari semua kelompok untuk dipresentasikan di Balai Desa, lalu
sebuah tim dikerah-kan untuk melakukan penggabungan, penggabungan ini baru
selesai pada jam 1 malam, tapi Alhamdulillah penggabungan ini berjalan dengan
baik, tinggal menunggu esok hari, berhasilkah kami ?.
Hari
ke-Empat, hari terakhir kami berada di desa Dawugan Sari, sebelum melakukan
presentasi di Balai Desa kami melakukan gladibersih terlebih dahulu, lalu
orang-orang yang ditunjuk sebagai pembicara dan MC sebagai berikut susunannya.
1.Silmi, Pembicara pertama
2.Adzkia,
Pembicara kedua
3.Farhan
F, Pembicara ketiga
4. Adi
dan Abadi, MC
Setelah
melakukan gladibersih kami bergegas menuju Balai Desa untuk melakukan
presentasi, di depan Kepala Desa, dan Tokoh masyarakat. presentasi berjalan
dengan bersemangat, dan berapi-api. Setelah presentasi selesai ada beberapa
tokoh warga yang berkomentar tentang adu domba, mereka bilang “ini bukan adu
domba tetapi, ini adalah adu ketangkasan domba”, pernyataan tersebut sempat
membuat tegang beberapa saat, tapi setelah itu Pak Karebet mencairkan suasana,
akhirnya suasana Balai Desa kembali tenang, lalu acara ditutup dengan doa dari
kiai Desa Dawugan Sari. Akhirnya kami telah menyelesaikan semua kegiatan kami
di Garut dengan sukses, Allahuakbar !!!.
Sebelum kami
meninggal-kan kota Garut kami disuguhkan segarnya degan khas Garut, pangalaman
kami di Garut takkan terlupakan, banyak yang tak dapat dijelaskan dengan
kata-kata.
Lalu
perjalanan kembali ke Bogor, IBS Insantama-pun dimulai kami berangkat pukul
16.00, dan sampai di Bogor sekitar pukul 21.00, sesampainya di IBS Insantama
kami disambut dengan takbir, dan spanduk bertuliskan “wilujeng sumping di IBS
insantama”, gemuruh takbir tiada henti menghiasi kedatangan kami.
Lalu untuk
yang terakhir kami mengatakan, kumaha
kabarna dinteun ieu !?